Pengalaman Menggunakan Minimal Install Fedora Linux 34

Pengalaman Menggunakan Minimal Install Fedora Linux 34

Fedora linux adalah salah satu distro Linux yang paling lama saya kenal. Di awal mungkin setelah menjajal linux dengan PCLinuxOS, Fedora adalah distro kedua yang saya pakai. Dan bahkan untuk penggunaan yang lebih dari sekedar install dan lihat-lihat, Fedora adalah distro yang saya pakai untuk server di lingkungan internal tempat kerja saya terdahulu.

Nah, 2 tahun terakhir ini untuk personal use saya selalu memakai linux lagi. Setelah mengawali dengan Zorin, ElementaryOS, Xubuntu dan OpenSUSE saya kembali memakai Fedora sejak awal tahun ini.

Pernah kemarin tergoda untuk memakai Solus karena penasaran dengan Budgie Desktop. Namun kemudian balik lagi pakai Fedora, dan karena ingin menengok desktop environment KDE, maka saya sekaligus memilih Fedora KDE Spin.

Yang membuat saya kecewa.

Saya merasa nature Fedora yang tidak sebebas distro lain, menjaga benar-benar packages yang secara resmi termasuk di dalamnya hanya software free dan open source digabung dengan KDE sangat membatasi pilihan. Well, secara pengalaman di distro lain saya harusnya bisa install aplikasi yang dikembangkan untuk desktop Gnome di situ, tapi nyatanya tidak demikian.

Solusi: Mencoba Minimal Install Fedora

Fedora Minimal install adalah sebuah cara alternatif untuk meng-install Fedora Linux.

Berbeda dengan ketika kita memilihsalah satu Spins, berbagai program default untuk web browser, office suite, multimedia dan lain-lain semua sudah termasuk. Ada enaknya, tapi kadang kita tidak merasa cocok dengan pilihan software yang include, atau ada program yang kita sama sekali tidak butuh.

Install Fedora 34 Minimal Install

Memilih metode minimal install seolah mengembalikan kita pada kebiasaan install Windows, install OS sendiri, aplikasi sendiri kemudian, minus pusingnya nyari driver sih 😛

Minimal Install dimulai dengan download Fedora Everything dari halaman berikut. Setelah boot dari media yang sudah di download dan dimasukkan dalam flash atau CD, karena hanya 600 MB, tidak 2-4 GB seperti spins.

Dengan mengikuti tutorial di sini, saya bisa melakukannya dengan mudah, walau di awal proses agak bingung karena tampilan installer yang tidak responsif untuk memilih bahasa selain Indonesia. Pilih itu saja, nanti kalau sudah selesai bisa nambah bahasa lain lalu buang bahasa Indonesia-nya.

Hasilnya?

Sebuah desktop yang minimalis. Sangat minimalis.

Karena di akhir proses install, begitu reboot kita hanya akan berpapasan dengan terminal saja, tidak ada desktop environment yang ikut tertampil.

Loading juga terasa ringan karena program yang terinstall sangat sedikit, hanya dalam hitungan ratusan packages.

Belajar Lebih Tentang Fedora dari Masalah

Dari sini proses belajar baru dimulai, belajar install Gnome buat dapat tampilan grafis pada umumnya dengan perintah groupinstall. Kemudian jadi tahu bisa install Pantheon atau bahkan Deepin Desktop bersanding dengan Gnome. Pantheon akhirnya saya buang lagi sih.

Kemudian setelah install Nautilus sebagai file browser baru sadar ternyata untuk menu klik kanan open in terminal saja tidak ada, googling dulu package apa yang butuh diinstall.

Masalah selanjutnya adalah tentang mtp, akses storage di Android melalui file browser yang tidak kunjung nampak di awalnya dan bisa disembuhkan dengan install paket gvfs.

Masalah terakhir yang baru saya temukan beberapa pekan kemudian adalah untuk konek dengan MiFi melalui kabel USB. Ini adalah masalah yang nggak begitu saya sadar sebagai masalah, dan sempat konyol juga solusinya dengan tetherin USB di HP, padahal HP konek ke mifi yang nacep ke PC.

Sempat juga beberapa kali googling dengan kata kunci yang salah, sehingga tidak kunjung ketemu solusinya. Untuk mengatasi modem/mifi yang tidak bekerja ini, adalah dengan install package usb_modeswtich yang bisa didownload dari sini.

Kurang lebih sampai situ saja mungkin sharing kali ini, semoga bisa jadi referensi dan diambil manfaatnya.

About the author

Tiyo sudah menulis di berbagai blog sejak 2007, TUTSbyT adalah tempat berbagi pengalaman menjadi insan kreatif dengan software open source.
Pengguna Linux sejak akhir 2019 ini ingin menunjukkan kepada Anda bahwa berkreasi tidak harus dengan menggunakan OS dan software bajakan yang sebenarnya tidak dapat dijangkau.

Dunia open source kaya akan pilihan software yang lebih dari mumpuni.

Leave a Comment

%d bloggers like this: